Pada tanggal 11 Maret 2025, Ketapang akan merayakan usia yang ke-607 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang tentunya diwarnai dengan berbagai dinamika, baik kemajuan maupun tantangan. Namun, di balik perayaan tersebut, kita tak bisa menutup mata terhadap beberapa permasalahan yang masih mengemuka, khususnya terkait dengan infrastruktur dan isu sosial yang semakin memprihatinkan.
Infrastruktur yang Masih Tertinggal
Salah satu persoalan yang paling mencolok di Ketapang adalah infrastruktur yang masih tertinggal. Di tengah perkembangan kota, banyak jalan yang berlubang, baik di pusat kota maupun di daerah pedesaan, yang rawan menyebabkan kecelakaan. Selain itu, gangguan pada sistem lalu lintas, seperti seringnya lampu lalu lintas padam, semakin memperburuk situasi ini. Keadaan tersebut jelas mencerminkan kurangnya perhatian terhadap pemeliharaan fasilitas publik yang seharusnya menjadi prioritas demi keselamatan dan kenyamanan warga.
Fenomena lain yang tak kalah mengganggu adalah lampu taman yang mati di banyak titik. Sebagai daerah yang terus berkembang, Ketapang harus segera memperbaiki dan menata infrastruktur yang ada, tidak hanya demi estetika, tetapi lebih penting lagi untuk kualitas hidup masyarakat. Terlebih lagi, masalah jalan berlumpur yang hingga kini dikeluhkan warga dan belum mendapatkan solusi yang memadai. Begitu pula dengan masalah kelistrikan yang masih menghantui. Salah satu warga di Kecamatan Matan Hilir Utara bahkan harus menanggung kerugian karena pemadaman listrik yang berlangsung berhari-hari. PLN, sebagai satu-satunya penyedia listrik, harus segera memperbaiki layanan mereka agar masyarakat tidak lagi terhambat oleh masalah dasar seperti ini.
Isu Sosial yang Semakin Meningkat
Di sisi sosial, Kota Ketapang juga menghadapi tantangan yang cukup besar. Maraknya pengemis, badut jalanan, dan pengamen yang beroperasi tanpa pengawasan yang jelas menjadi masalah yang semakin mengganggu kenyamanan masyarakat. Kehadiran mereka sering kali menambah keruwetan,bahkan dalam beberapa kasus, ada indikasi adanya jaringan yang mengorganisir mereka. Ini menjadi semakin problematik, mengingat sejumlah kasus kriminalitas pun mulai bermunculan, seperti kejadian seorang pengamen yang kedapatan mencuri tas milik seorang warga di kedai kopi. Meskipun pelaku akhirnya meminta maaf, namun kejadian ini menunjukkan bahwa masalah sosial yang dihadapi Ketapang tak bisa dianggap sepele.
Selain itu, tingginya angka prostitusi di beberapa titik juga memunculkan masalah yang jauh lebih besar, terutama dalam hal penyebaran HIV/AIDS. Praktek prostitusi yang tidak terkendali ini jelas berdampak pada kesehatan masyarakat dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah untuk segera ditangani. Bukan hanya korban prostitusi yang menjadi korban, tetapi juga masyarakat luas yang harus menanggung akibat dari meningkatnya angka penyebaran penyakit tersebut.
Tanggung Jawab Pemerintah dan Masyarakat
Menjelang HUT Ke-607 Ketapang, kita dihadapkan dengan dua pilihan: membiarkan permasalahan ini berlarut-larut atau bersama-sama mencari solusi yang efektif. Pemerintah Ketapang harus segera mengambil langkah-langkah nyata untuk memperbaiki infrastruktur, mulai dari perbaikan jalan yang rusak hingga penataan sistem transportasi yang lebih efisien dan aman. Pemeliharaan fasilitas umum, seperti lampu jalan dan taman, harus menjadi perhatian utama agar Ketapang bisa menjadi tidak hanya sekadar berkembang, tetapi juga nyaman dan aman untuk warganya.
Dalam menghadapi masalah sosial, pendekatan yang lebih manusiawi dan berbasis pada pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan. Pemerintah harus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memberikan alternatif ekonomi bagi pengemis dan pengamen, serta menindak tegas praktek prostitusi yang merugikan. Pemberdayaan ekonomi dan pendidikan akan lebih efektif dalam mengurangi angka kemiskinan yang menjadi akar dari banyak permasalahan sosial.
Namun, bukan hanya pemerintah yang harus berperan. Masyarakat Ketapang juga harus lebih aktif menjaga kebersihan, ketertiban, serta ikut serta dalam mendukung program-program pemerintah. Partisipasi aktif dari masyarakat akan mempercepat proses perbaikan dan menciptakan kota yang lebih baik.
Masa Depan Ketapang
Ketapang memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan menjadi lebih baik. Dengan kerjasama yang erat antara pemerintah dan masyarakat, kita bisa menciptakan Ketapang yang lebih nyaman, aman, dan layak huni. Seiring dengan perayaan usia yang ke-607 tahun, ini adalah momentum yang tepat untuk melakukan refleksi dan mengambil langkah konkret dalam menyongsong masa depan yang lebih cerah.