Ketapang, Kalbar– (6 Januari 2026). Ratusan siswa di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, diduga mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu, 5 Februari 2026, dan langsung mendapat penanganan intensif dari tim kesehatan setempat.
Berdasarkan data yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, dr. Feria Kowira, melalui siaran pers dan video konferensi di depan Puskesmas Marau, total terdapat 340 orang yang mengalami gejala diduga keracunan. Mereka terdiri dari 9 siswa SD, 144 siswa SMP, 73 siswa SMA, 101 siswa SMK, serta 13 orang dewasa yang terdiri dari petugas MBG dan guru.
“Kami di Puskesmas Kecamatan Marau sedang menangani terduga akibat konsumsi makanan sejumlah 340 orang. Saat ini terdapat dua pasien yang dirujuk ke Rumah Sakit dr. Agusdjam Ketapang karena tidak dapat ditangani di puskesmas,” ujar dr. Feria.
Adapun gejala yang dialami para korban antara lain mual, muntah, sakit perut, pusing, dan dehidrasi. Dinas Kesehatan memastikan bahwa seluruh pasien telah mendapatkan penanganan medis, sementara sebagian di antaranya telah dipulangkan karena kondisinya membaik.
Dr. Feria menjelaskan, penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan delapan tim kesehatan, serta dukungan lintas sektor mulai dari Camat Marau, Polsek, Koramil, hingga pihak perusahaan di wilayah setempat.
“Obat-obatan dan BMBP tersedia, dan saat ini kondisi pasien tertangani. Sebagian besar sudah tidak memiliki keluhan dan dipulangkan. Kami berharap kejadian ini tidak terulang kembali,” tutupnya.
Desak Evaluasi
Sementara itu, Bung Endang Kurniawan, mantan aktivis mahasiswa Ketapang, menilai insiden ini harus menjadi perhatian serius semua pihak. Menurutnya, meskipun program MBG merupakan kebijakan yang baik, pelaksanaannya harus diawasi secara ketat dan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
“Program ini bagus jika dijalankan sesuai SOP. Namun sangat disayangkan kejadian seperti ini kembali terjadi di Ketapang. Artinya, harus ada antisipasi serius dari pihak SPPG yang menangani. Jangan sampai lalai,” ujarnya.
Endang menegaskan, korban yang mencapai ratusan bukanlah angka kecil, terlebih yang terdampak adalah anak-anak sekolah sebagai generasi penerus bangsa.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Aparat penegak hukum wajib mengusut tuntas secara transparan agar tidak terulang di kemudian hari. Evaluasi menyeluruh terhadap pihak SPPG harus segera dilakukan, dan mereka wajib memberikan klarifikasi serta bertanggung jawab,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan kekecewaan para orang tua terhadap kinerja pihak penyelenggara MBG di Kecamatan Marau, serta mengimbau agar siswa yang masih merasakan keluhan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang mengenai penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut. Proses penelusuran dan evaluasi masih terus dilakukan oleh instansi terkait
Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada seluruh pihak terkait, termasuk penyelenggara MBG dan instansi berwenang, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, guna menjamin keberimbangan, akurasi, dan kepentingan publik.
Red:KN






